Jogja (12/10) bertempat di hotel Sahid, bbrp mahasiswa FKH UGM bertemu dengan drh. Prabowo Respatyo, dan beberapa pengusaha importir dan distributor daging/sapi Indonesia (terorganisir dalam ADDI) yang pada tgl 23 September kemarin juga hadir menemani rombongan Dirjen pada acara penutupan Pengmasnas di Sambi, Boyolali. Pada pertemuan saat penutupan acara pengmasnas sekaligus pemberian insentif 500 ribu rupiah kepada peternak yang memiliki sapi betina di desa Sambi kemarin, Dirjen mulai menggemborkan kampanya STOP PEMOTONGAN SAPI BETINA, dimulai dengan pemberian insentif tersebut, ada anggaran sekitar 700 miliar untuk itu.
Kemudian, pada pertemuan tanggal 12malam kemarin, bapak Dirjen, diwakili oleh Arif Prasojo, seorang pengusaha importir sapi yang berlatar belakang pendidikan dari fakultas sastra, Universitas Indonesia ini menyampaikan beberapa pesan yang termaksud dalam kampanye Stop Pemotongan Sapi Betina Bapak Dirjennakeswan kita.
Intinya adalah dengan kita menghentikan pemotongan sapi betina yang kejadiannya di Indonesia bisa dibilang luar biasa ini, maka akan menyelamatkan jumlah populasi sapi di Indonesia. Jumlah sapi di Indonesia yang “menurut” sensus ternak bulan Juli lalu sudah swasembada, diharapkan akan selalu konsisten menjaga jumlahnya sehingga angka 10% impor sapi benar2 tercapai.
Namun, pengendalian pemotongan sapi betina ini hanya merupakan langkah kecil yang bisa dilakukan untuk mewujudkan swasembada daging sapi Indonesia. Para importir & distributor memiliki banyak alasan kenapa mereka melakukan impor sapi, selain untuk memenuhi kebutuhan daging dalam negeri, di antaranya adalah daging luar negeri memiliki kualitas lebih baik dan lebih murah. Permintaan juga membutuhkan daging sapi sirloin yang dapat mensuplai kebutuhan hotel bintang 5, bukan daging berkualitas karet yang dihasilkan dari RPH Indonesia !! yang sapinya disembelih saat keadaan ketakutan, dan cutting karkas yang tidak mengikuti prosedur.
Inilah yang menurut kacamata Bapak dirjen dan tim importir menjadi tugas kita, mahasiswa. Bagaimana cara membuat daging dalam negeri lebih berkualitas dan lebih murah? Mahasiswa wajib untuk memberikan kontribusi dalam hal ini ! dengan ilmu yang masih segar, kreativitas yang masih tinggi, dan critical thinking yang masih kuat.
Dari segi geopolitik misalnya, bagaimana kita bisa memenej suatu daerah potensial menjadi sentra peternakan sapi yang terintegrasi, bagaimana cara kita mengolah pakan sapi agar karkas yang dihasilkan memiliki kualitas yang sama dengan impor, bagaimana cara mengotimalkan potensi sapi local dan menjaga kemurnian bibitnya, bagiaman cara meningkatkan produktivitas sapi agar dapat beranak setiap tahun? lalu belajar bagaimana cara pemotongan dan pengolahan daging yang baik agar dapat diaplikasikan di rumah potong hewan, bekerja sama dengan Pemda setempat tentunya.
Entah ini provokasi atau bukan, kenapa para importir menggandeng dirjen untuk menggerakkan peternakan rakyat Indonesia? Kenapa mereka membeli sapi2 lokal di daerah? Karena suatu saat, Negara eksportir terbesar seperti Aussie juga akan mengalami kemerosotan ekonomi karena bencana alam, peperangan, dan sebagainya. Negara Indonesia tidak bisa selamanya bergantung pada Negara lain, kita harus punya kedaulatan pangan. Masa depan Indonesia ada di tangan para pemuda, dan masa depan peternakan ada di tangan dokter hewan yang mengerti bagaimana cara peternakan kita bisa maju.
Ya..seperti itulah pesan yang disampaikan kepada kita. Pemerintahan memang selalu sarat dengan politik, entah disertai dengan manipulasi, provokasi, kucing dalam karung, dan sebagainya. Apapun itu harus selalu kita diwaspadai, kita lakukan apa yang menurut kita baik,bukan apa yang diperintahkan kepada kita, karena hal terakhir yang dimiliki oleh mahasiswa ketika dia sudah tidak punya apa-apa adalah IDEALISME.
0 komentar:
Post a Comment